Sabtu, 11 Februari 2012

PENGENALAN ALAT KEHUTANAN

PENDAHULUAN 

Latar Belakang
Ada bermacam-macam perkakas yang diperlukan untuk sigi linier, mulai dari mistar lipat 1m yang sederhana sampai rantai baja 20m yang berat, alat-alat lainnya yaitu: Maistar lipat kayu, dibuat dari kayu bermutu tinggi dengan satu sendi kuningan di tengah dan dua engsel lipat. Mistar- saku baja, mistar yang hanya berskala satu sisi saja. Pita baja, terbuat dari baja beremail putih, lebar 9,5 m dan tebal 0,2 mm dengan skala hitam dan tanda merah setiap 1 m. Pita sintetik, dibuat dari serat kaca berlapis PVC, skala paling halus 10 mm. Rantai ukur, panjangnya 20 m, tersusun atas mata rantai yang dibuat dari kawat baja 10 S-W-G, dihubungkan oleh tiga mata rantai oval kecil. Pita ukur, jalon, anak panah, markan (per), dan lain-lain (Ligfesink, 1997). Salah satu dari lima metode pengukuran jarak ialah metode dengan pita ukur dan odometer. Metode pengukuran jarak dengan odometer merupakan metode sederhana yang hamper mirip dengan metode langkah, yaitu mengukur jarak dengan menghitung jumlah putaran roda yang kelilingnya diketahui, bila roda tersebut digelindingkan antara dua titik pengukuran. Jarak yang dihitung dengan persamaan : jarak= putaran roda x keliling roda. Alat ini sangat praktis untuk mengukur jarak suatu jalur, dimana jalurnya berbelok-belok dan naik turun, seperti halnya jalur jalan dalam rangka pengaspalan atau pertanian sendiri dalam rangka pengukuran luas lahan bergelombang dan bentuk petaknya tidak beraturan. Pada ukur tanah yang umumnya bertujuan untuk pembuatan peta, jarak yang dimaksud adalah jarak horizontal dan jarak mendatar. Di dunia pelestarian luas lahan yang ditentukan oleh jarak ini ada kaitannya dengan luasan lahan yang dapat ditanami dan diproduksi yang akan diperoleh, maka jarak sesuai kondisi lahan itulah yang paling cocok atau dengan kondisi lahan itulah jarak miringnya sebaiknya diukur (Brinker, dkk, 1986). Untuk pekerjaan pengukuran, baik pengukuran jarak maupun pengukuran sudut, diperlukan titik-titik di lapangan. Titik-titik di atas permukaan bumi ini ada yang mempunyai sifat tetap ada pula yang memiliki sifat sementara. Titik-titik ini yang dibuat di lapangan harus dapat ditemukan dengan mudah. Titik-titik yang bersifat tetap, sehingga selalu dapat digunakan untuk pengukuran-pengukuran adalah, pertama : titik-titik triangulasi yang dibuat dalam daerah yang besar seperti di Indonesia untuk tiap-tiap pulau di dalam kota-kota (Wongsotjitro,1985). Tujuan Adapun tujuan dari praktikum yang berjudul Pengenalan Alat adalah: Untuk mengetahui dan mengenal alat-alat yang digunakan dalam praktikum Geodesi dan kartigrafi. Untuk mengetahui fungsi dan bagian dari masing-masing alat tersebut. Untuk dapat menggunakan alat-alat tersebut dalam kegiatan pengukuran. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing alat. 

TINJAUAN PUSTAKA 
Pengukuran jarak horizontal dengan pita terdiri atas penetapan panjang yang diketahui. Pada pita berpembagian skala langsung pada sebuah garis beberapa kali. Dua garis timbul tersebut adalah mengukur jarak antara dua titik, misalnya dua patok tanah dan memasang sebuah jarak di satu titik awal saja yang tertentu tempatnya. Pengukuran dengan pita dilakukan dengan 6 langkah, yaitu meluruskan, memberikan tegangan, pengguntingan, menandai panjang pita, membaca pita dan mencatat jarak. Penerapan langkah-langkah pengukuran dengan pita ini pada tanah yang bertipe datar dan miring (Brinker, dkk, 1986). Konstruksi alat ukur selalu disesuaikan dengan maksud penggunaan alat ukur itu. ada alat yang digunakan untuk menentukan beda tinggi antara dua titik (alat penyipat datar atau alat ukur waterpass), ada alat yang digunakan untuk pengukuran guna pembuatan peta (bouselle tranche montagne, plancet). Meskipun konstruksi alat ini berlainan, tetapi alat-alat ukur tanah ini pada dasarnya mempunyai fungsi yang sama (Wongsotjitro, 1985). Dalam perkiraan survey banyak sekali peralatan yang digunakan. Salah satunya adalh pita ukur. Pita ukur digunakan untuk mengukur jarak di lapangan. Pita ukur ada yang dari kain linen berlapis plastic atau tidak. Pita ukur tersedia dalam ukuran panjang 10 meter, 15 meter, 30 meter sampai 50 meter. Pita ukur ini biasanya dibagi dalam interval 5 mm atau 10 mm. selain pita ukur, alat lain yang digunakan adalah kompas. Kompas digunakan sebagai pengukur sudut di lapangan dengan mengacu kepada salah satu kutub magnet bumi. Bacaan sudut kompas memiliki interval 10 ? 20 (Ligfesink, 1997). Pengukuran jarak dengan meteran biasnya dikenal dengan istilah taping, yaitu pengukuran jarak dengan menggunakan tape atau pita ukur berupa rol meter atau rantai ukur. Rol meter merupakan alat yang paling umum digunakan. Cara pengukuran dengan menggunakan meteran ini ditentukan dengan kondisi lahan (miring atau datar) dan jarak yang dikehendaki (jarak mendatar atau jarak miring). Pengukuran jarak mendatar pada lahan yang mendatar relatif lebih mudah dibanding pada lahan miring. Caranya dapat dilakukan dengan memasang atau meletakkan angka nol meteran pada patok titik satu dan menarik atau merentangkan rol meter ke titik ke dua selurus dan sedapat mungkin dengan tarikan yang cukup, sehingga meteran tidak melengkung atau melar memanjang. Selain kedua cara tadi dapat juga dilakukan dengan cara meletakkan atau mengimpitkan pita meteran ke patok di titik dua dan membaca angka meteran yang tepat dengan patok di dua titik tersebut. Bacaan ini menunjukkan bahwa jarak antara titik pertama dan titik kedua yang diukur (Yulfa, 2007). Kompas telah dipakai oleh para navigator dan lain-lain selama berabad-abad umtuk menentukan arah. Sebelum ditemukan teodolit, kompas dan sextan, kompas merupakan jalan satu-satunya yang praktis bagi juru ukur untuk mengukur arah dan sudut horizontal. Selain kompas terdiri atas sebuah jarum baja bermagnet dipasang pada sebuag sumbu putar dan titik pusat lingkaran pembagian skala. Kalau tidak terganggu oleh gaya tarik local, jarum menunjuk kea rah utara magnetik. Gaya magnet bumi mengatur arah jarum dan menarik atas menunjukan satu ujungnya dan bawa kedudukan horizontal. Sudut jarum bekisar dari 00 dekat diberati kumparan kawat yang amat kecil untuk mengimbangi pengarah jarum, dan membuatnya agar selalu horizontal. Kedudukan kumparan kawat dapat diatur untuk menyesuaikan terhadap lintang dimana kompas dipakai. Pemberatan jarum kompas theodolit dipasang untuk lintang rata-rata 400 utara. Ketika kompas diputar jarum tetap menunjuk kearah utara magnetic jam memberikan pembacaan yang tergantung pada kedudukan lingkaran pembagian skala (Irivine, 1980). 

METODOLOGI PRAKTIKUM 
Waktu dan Tempat 
Adapun praktikum yang berjudul Pengenalan Alat dilaksanakan pada hari Rabu, 13 Agustus 2008, pukul 08.00 wib sampai dengan selesai, di Laboratorium Manajemen Hutan, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. 
Bahan dan Alat 
Adapun bahan yang digunakan adalah: Buku tulis untuk mencatat materi yang diajarkan Buku panduan mahasiwa sebagai bahan bacaan mahasiswa dalam mempelajari Geodesi dan Kartografi Adapun alat yang digunakan adalah: Alat menulis dan menggambar (pulpen, pinsil, rol dan pinsil warana) sebagai alat untum neggambar. Theodolit manual dan digital sebagai alat pengukur sudut Jalon sebagai penanda objek yang diamati Rambu ukur sebagai alat yang menentukan ukuran yang diamati, baik jarak maupun tinggi Statif sebagai landasan theodolit Pita ukur sebagai pengukur jarak Abney level sebagai alat pengukur kemiringan Compas clino sebagai alat pengukur sudut Planimeter sebagai alat penghitung atau penentu luas Phiband sebagai alat pengukur diameter pohon Altimeter sebagai alat pengukur kedalaman Kompas sebagai penentu arah

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pita ukur Gambar 1.1 Pita Ukur Fungsi : mengukur jarak dan diameter. Kelebihan : 1. Mudah dibawa. 2. Dalam hal mengukur jarak, tinggal melihat angka yang tertera. Kekurangan : 1. Sulit digunakan dalam hal mengukur diameter. 2. Kurang teliti. Kompas clino Gambar 1.2 Kompas Clino Fungsi : untuk mengetahui arah angin dan sudut. Kelebihan : 1. Mudah dibawa 2. Ringan Kekurangan : 1. Skala terbalik. 2. Sulit melihat sudut yang tertera. Altimeter Gambar 1.3 Altimeter Fungsi : untuk mengukur kedalaman laut. Kelebihan : 1. Mudah dibawa (ringan dan simple) Kekurangan : 1. Peka terhadap gangguan Theodolit digital Gambar 1.4 Theodolit Digital Fungsi : untuk mengukur jarak lempeng, sudut azimuth dan vertikal. Kelebihan : 1. Hasil data yang diperoleh lebih cepat. 2. Cara penggunaanya mudah. 3. Data yang diperoleh akurat. Kekurangan : 1. Bobotnya berat. 2. Harganya mahal. 3. Untuk mendapat data yang akurat, pengaturan harus stabil. Statif Gambar 1.5 Statif Fungsi : sebagai landasan berdirinya theodolit. Theodolit manual Gambar 1.6 Theodolit manual Fungsi : untuk mengukur jarak lempeng, sudut azimuth dan vertikal. Kelebihan : 1. Harga lebih mudah disbanding yang digital. 2. Pengaturan tidak sesulit penyetabilan arah digital. Kekurangan : 1. Bobotnya berat. 2. Data yang diperoleh kurang akurat. Rambu ukur Gambar 1.7 Rambu Ukur Fungsi : sebagai patokan ukuran tinggi dan jarak suatu areal. Planimeter Gambar 1.8 Planimeter Fungsi : Untuk mengukur luasan suatu daerah. Kelebihan : 1. Ringan 2. Dapat digunakan pada areal tidak beraturan. Kekurangan : 1. Harus menggambar proyeksi peta terlebih dahulu. 2. Data yang didapat kurang akurat. Abney level Gambar 1.9 Abney Level Fungsi : untuk mengetahui kelerengan tapak. Kelebihan : 1. Bobotnya ringan 2. Harganya tidak terlalu mahal. Kekurangan : 1. Data yang diperoleh kurang akurat. 

KESIMPULAN DAN SARAN 
Kesimpulan Alat-alat yang digunakan dalam bidang ilmu Geodesi dan Kartografi focus terhadap pemetaan yang bertujuan dalam pengukuran jarak, sudut serta beda tinggi. Alat kehutanan yang paling canggih adalah theodolit digital dalam hal menentukan sudut azimuth. Alat kehutanan yang paling sederhana adalah pita ukur. Alat yang digunakan sebagi sarana pendukung adalah jalon, rambu ukur dan ststif. Alat yang digunakan untuk mengukur jarak berupa pita uku. Alat- alat yang bisa digunakan dalam mengukur sudut adalah theodolit (digital maupun manual), clinometer dan abney level. Clinometer dapat digunakan dengan jarak minimal 15 meter. Ketelitian dalam hal pengukuran tidak hanya tergantung pada alat, namun pada pengukur dan juga faktor alamnya. Dalam menggunakan theodolit, gelembung air yang terdapat pada nivo horizontal maupun vertikal harus benar-benar berada di tengah. Planimeter digunakan untuk mengukur luasan suatu lahan dengan skala pengecilan tertentu daerah teratur maupun tidak. Saran Diharapkan agar para praktikan memahami terlebih dahulu menenenal alat dengan cara melihat secara gambaran sebelum melihat secara nyata. Para praktikan juga diharapkan serius dalam menggambar alat dan mengenal berbagai jenis, bagian dan fungsi atau kegunaan alat tersebut. 
 
Source : link

Source: http://muherda.blogspot.com/2012/01/pengenalan-alat-kehutanan.html

hardwood flooring parket parquet parquet indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar